Saat Momentum Menghilang dari Persis Solo

Saat Momentum Menghilang dari Persis Solo
Bek Persis Solo, Dusan Mijic, tertunduk lesu usai timnya ditahan imbang oleh PSBS Biak pada laga pekan ke-22 BRI Super League musim 2025/2026 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (21/02/2026). (c) Sambernyawacom/Bintang M

SAMBERNYAWA.COM – Sepak bola sering kali bukan tentang siapa yang paling lama memegang bola, melainkan siapa yang paling tepat memanfaatkan satu momen kecil yang muncul lalu menghilang dalam hitungan detik. Di situlah pertandingan kerap ditentukan.

Pep Guardiola pernah menyebut, laga bisa berubah hanya karena satu kehilangan fokus. Tim boleh menguasai bola 80 persen, tetapi satu momen yang salah cukup untuk meruntuhkan semuanya. Sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang momentum—tentang keberanian mengambil detik yang tersedia sebelum detik itu direbut lawan.

Dan di Manahan, momentum itu seperti sengaja menjauh dari Persis Solo.

Baca Juga: Persis Solo Gagal Amankan Tiga Poin di Manahan, Milomir Seslija Soroti Tumpulnya Lini Serang

Malam itu seharusnya menjadi titik balik. Menghadapi PSBS Biak, sesama tim yang bergulat di zona bawah, kemenangan bukan hanya soal tiga poin. Ia adalah tentang mengembalikan rasa percaya diri, tentang memutus 22 laga dengan hanya dua kemenangan, tentang memberi alasan bagi publik untuk tetap percaya.

Ketika gol pembuka lahir, harapan seperti menyala kembali. Stadion seolah menemukan nadinya. Namun alih-alih menekan dan membunuh laga dengan gol kedua, Persis justru menarik diri. Mereka merapat, memperlambat tempo, seolah satu gol cukup untuk mengamankan malam.

Di situlah momentum perlahan menguap.

Menguasai bola memang terlihat dominan, tetapi menguasai bola tidak pernah otomatis berarti menguasai pertandingan. Persis lebih banyak berputar di wilayah sendiri, mengalirkan bola tanpa benar-benar menusuk. Babak kedua terasa seperti pengulangan tanpa klimaks—umpan-umpan aman, pergerakan yang mudah ditebak, keputusan terburu-buru di sepertiga akhir lapangan.

Sebelum gol penyeimbang lahir, sebenarnya ada ruang. Ada celah. Ada dua atau tiga peluang yang seharusnya bisa menjadi pembeda. Tetapi setiap sentuhan akhir terasa ragu. Eksekusi terlalu cepat ketika seharusnya tenang. Umpan dilepas ketika seharusnya ditembak. Keputusan sepersekian detik yang salah kembali menjadi harga mahal.

Gol dari PSBS datang seperti pengingat keras. Dari sisi kanan pertahanan, kombinasi sederhana tetapi rapi mengoyak konsentrasi. Pemain-pemain PSBS bergerak dengan keyakinan, membuka ruang, memindahkan bola dengan nyaman. Hanya butuh beberapa menit bagi mereka untuk mengubah suasana.

Leave a comment