
SAMBERNYAWA.COM – Sepak bola sering kali bukan tentang siapa yang paling lama memegang bola, melainkan siapa yang paling tepat memanfaatkan satu momen kecil yang muncul lalu menghilang dalam hitungan detik. Di situlah pertandingan kerap ditentukan.
Pep Guardiola pernah menyebut, laga bisa berubah hanya karena satu kehilangan fokus. Tim boleh menguasai bola 80 persen, tetapi satu momen yang salah cukup untuk meruntuhkan semuanya. Sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang momentum—tentang keberanian mengambil detik yang tersedia sebelum detik itu direbut lawan.
Dan di Manahan, momentum itu seperti sengaja menjauh dari Persis Solo.
Baca Juga: Persis Solo Gagal Amankan Tiga Poin di Manahan, Milomir Seslija Soroti Tumpulnya Lini Serang
Malam itu seharusnya menjadi titik balik. Menghadapi PSBS Biak, sesama tim yang bergulat di zona bawah, kemenangan bukan hanya soal tiga poin. Ia adalah tentang mengembalikan rasa percaya diri, tentang memutus 22 laga dengan hanya dua kemenangan, tentang memberi alasan bagi publik untuk tetap percaya.
Ketika gol pembuka lahir, harapan seperti menyala kembali. Stadion seolah menemukan nadinya. Namun alih-alih menekan dan membunuh laga dengan gol kedua, Persis justru menarik diri. Mereka merapat, memperlambat tempo, seolah satu gol cukup untuk mengamankan malam.
Di situlah momentum perlahan menguap.
Menguasai bola memang terlihat dominan, tetapi menguasai bola tidak pernah otomatis berarti menguasai pertandingan. Persis lebih banyak berputar di wilayah sendiri, mengalirkan bola tanpa benar-benar menusuk. Babak kedua terasa seperti pengulangan tanpa klimaks—umpan-umpan aman, pergerakan yang mudah ditebak, keputusan terburu-buru di sepertiga akhir lapangan.
Sebelum gol penyeimbang lahir, sebenarnya ada ruang. Ada celah. Ada dua atau tiga peluang yang seharusnya bisa menjadi pembeda. Tetapi setiap sentuhan akhir terasa ragu. Eksekusi terlalu cepat ketika seharusnya tenang. Umpan dilepas ketika seharusnya ditembak. Keputusan sepersekian detik yang salah kembali menjadi harga mahal.
Gol dari PSBS datang seperti pengingat keras. Dari sisi kanan pertahanan, kombinasi sederhana tetapi rapi mengoyak konsentrasi. Pemain-pemain PSBS bergerak dengan keyakinan, membuka ruang, memindahkan bola dengan nyaman. Hanya butuh beberapa menit bagi mereka untuk mengubah suasana.
Momentum Persis Solo berpindah tangan.
Pergantian pemain yang dilakukan tak memberi dampak signifikan. Tekanan memang ada, tetapi tak cukup untuk meretakkan organisasi pertahanan lawan. PSBS justru terlihat semakin solid, semakin yakin bahwa satu poin adalah harta yang harus dijaga mati-matian.
Bagi Persis, hasil 1-1 terasa seperti malam yang terlewat begitu saja. Bukan karena mereka sepenuhnya buruk, tetapi karena mereka tak cukup berani. Dalam situasi genting, setengah keberanian sering kali sama dengan kegagalan.
Kini tersisa 12 laga. Secara hitung-hitungan, peluang selamat masih terbuka. Tetapi hitungan di atas kertas tak akan berarti tanpa keberanian menciptakan momentum baru. Kemenangan kandang menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar target.
Tugas besar ada di tangan pelatih untuk meramu pemain asing dan lokal menjadi satu kesatuan yang kolektif, bukan sekadar kumpulan individu yang bermain sendiri-sendiri. Persis tidak kekurangan penguasaan bola. Mereka tidak kekurangan usaha. Yang mereka butuhkan adalah keberanian mengubah satu gol menjadi dua, satu peluang menjadi kepastian.
Baca Juga: Menggelorakan Muruah Manahan
Karena dalam sepak bola, seperti kata Guardiola, pertandingan ditentukan oleh momen. Karena dalam sepak bola—seperti dalam fisika—momentum tidak pernah lenyap begitu saja.
Ia hanya menunggu siapa yang cukup berani untuk mengambilnya, menjaganya, dan tidak melepaskannya terlalu cepat. Dan waktu untuk menemukan momen itu tidak pernah menunggu terlalu lama.
Lihat galeri foto eksklusif di Instagram [@SambernyawaCom]