Muruah Fans Persis
Di luar urusan manajerial yang—setidaknya—telah berikhtiar menebus kekeliruan awal musim (atau setiap musim?), fans semestinya juga menunjukkan jati diri dan muruahnya. Kini, basis pendukung terfragmentasi dalam berbagai komunitas: Pasoepati, Ultras 1923, Surakartans, Garis Keras Sambernyawa, dan mungkin masih banyak lagi. Fragmentasi adalah keniscayaan dalam dinamika sosial—termasuk dalam kultur tribune. Namun, dalam situasi krusial, konsolidasi moral menjadi hal fundamental.
Sejarah mencatat, ketika Pelita Solo—kemudian Persijatim dan kini Persis Solo—tampil angin-anginan, Pasoepati tetap loyal dan atraktif. Atraksi, perkusi, dan koreografi menjadi magnet tersendiri yang menghidupkan Manahan. Dalam Pustaka Sepak Bola Surakarta, dikisahkan bagaimana sekitar 500 suporter rela menempuh lebih dari 500 kilometer ke Stadion Benteng, Tangerang, pada laga pemungkas Divisi Utama 2009/2010. Persis saat itu juru kunci dan hasil laga tak akan mengubah apa pun. Namun, mereka tetap berangkat—meninggalkan pekerjaan, sekolahan, serta rela menguras masa, dana, dan tenaga. Stadion Benteng memerah oleh Pasoepati. Selama 90 menit, asma Persis menggema. Beberapa pemain Persis tak kuasa membendung air mata haru. Itulah loyalitas yang melampaui logika (Rizki, 2018).
Tentu kita semua masih ingat tatkala fans Persis menginisiasi pembentukan dapur umum oleh menopang logistik pemain dan ‘menyumbang jersei’ agar penggawa Laskar Sambernyawa dapat berlaga dengan zirah nan gagah. Fans Persis juga pernah menggalang donasi dengan menjual kaus, stiker, dan atribut agar penggawa Persis memperoleh ganjaran material yang layak sebagai pesepak bola.
Selain itu, dalam dekade silam, saban awal musim, media-media lokal selalu dihiasi ketidaksiapan Persis untuk turut dalam kompetisi. Ya! Sekadar untuk membentuk tim dan turut serta dalam kompetisi pun, para suporter yang harus mendorong dan menyokong! Hal ini menjadi bukti sahih bahwa kultur kokoh persepakbolaan Surakarta adalah hasil pemaknaan terhadap makna agung Persis. Ini bukan hal yang tiba-tiba turun dari langit! Perlu kesadaran untuk merawat dan melestarikan identitas, loyalitas, heroisme, dan jati diri fans Persis sejati.
Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya perkara skor dan klasemen. Sepak bola adalah ruang kebudayaan (Sindhunata, 2002). Solo telah memberi teladan bahwa suporter bisa menjadi ‘penjaga peradaban kecil’ bernama ekosistem dan kultur stadion. Rekonsiliasi Pasoepati—Bonek pada 2011, hingga perdamaian suporter Solo–Yogya pada 2022, adalah bukti sahih lain bahwa suporter dapat mencanangkan hal-hal luhur dan positif sekaligus sebagai komplementer lima aspek profesionalitas klub. Sebagai pionir perdamaian, fans Persis seyogianya melestarikan kultur ‘sepak bola sebagai medium integrasi’, bukan malah menghempas dan meregasnya.
Kreativitas tribun, seperti koreografi, chant, mural, hingga gerakan sosial, adalah energi kultural yang tidak dimiliki semua kota. Loyalitas yang pantang lekang oleh degradasi, kekalahan, bahkan hinaan, adalah mata air yang terus menghidupi klub. Dalam literatur sosiologi olahraga, fans disebut sebagai penjaga identitas kolektif. Mereka yang memastikan klub tetap punya jiwa, bahkan ketika performa sedang goyah (Laily, 2016).
Dengan demikian, ketika Persis sedang berjuang menata ulang fondasinya, suporter dapat menjadi pemantik paling autentik bagi iklim persepakbolaan yang sehat: menghadirkan atmosfer yang bergelora tanpa kebencian; militansi tanpa anarki; kritik tanpa destruksi—atau sebagaimana konsepsi awal: ‘edan tapi mapan lan terkenal sopan’.
Ya! Dari tribun yang riuh dan beradab, lahir pesan bahwa sepak bola Solo dapat menyuguhkan tontonan sekaligus tuntunan. Ini bukan tentang Manahan yang dominan berwarna merah, hitam, atau putih. Ini bukan tentang ultra, hooligan, barra brava, mania, atau torcidas. Ini tentang kesadaran untuk memaknai muruah sepak bola sebagai wahana luhur dan mulia—sebagaimana khitah Persis dan jati diri persepakbolaan Solo—dengan cara kita sendiri! Jika perdamaian dirawat, kreativitas dirayakan, dan loyalitas dijaga, Manahan akan kembali bertuah dan memiliki muruah. Semua pihak akan mencintai kultur Manahan dan bersimpati kepada Persis Solo—tak peduli berlaga di kasta pertama atau Liga Nusantara!
Pahamilah..
Penulis Pustaka Sepak Bola Surakarta
Wakil Ketua Solo Societeit

