Menggelorakan Muruah Manahan

Menggelorakan Muruah Manahan
Ribuan suporter membentangkan spanduk “Total Persis” di tribun Stadion Manahan saat laga kandang Persis Solo. Di tengah performa yang belum stabil pada musim 2025/2026, dukungan publik diharapkan kembali menggelorakan muruah Manahan dan menjadi energi kebangkitan Laskar Sambernyawa. (c) Sambernyawacom/Okta Riska

Rentetan hasil buruk membuat Persis Solo menutup putaran pertama BRI Super League musim 2025/2026 dengan terjerembab di dasar klasemen. Situasi ini memaksa seluruh elemen klub berbenah. Memasuki almanak putaran kedua, Persis menjadi klub paling sibuk. Seluruh penggawa asing pada putaran pertama dilepas. Manajemen mendatangkan 17 rekrutan anyar yang terdiri atas 11 pemain asing dan 6 serdadu lokal. Perombakan besar-besaran ini menjadi salah satu indikator keseriusan untuk menyelamatkan eksistensi Laskar Sambernyawa di kompetisi tertinggi, meski dalam prosesnya, dinamika tak terhindarkan.

Perekrutan Clayton da Silveira da Silva, misalnya, yang sempat diumumkan secara resmi pada 31 Januari 2026, tetapi empat hari berselang dinyatakan tidak memenuhi syarat registrasi setelah verifikasi PSSI. Insiden ini membuat publik kembali gusar. Sepak terjang Persis di bursa transfer memang kerap di luar nalar: gagal memagari pemain kunci seperti Ryo Matsumura, Alexis Messidoro, Moussa Sidibe, hingga yang terakhir Cleyton Santos dan Kodai Tanaka. Dua nama terakhir dapat dimaklumi karena, mungkin, kebutuhan klub akan suntikan dana demi membiayai perombakan skuad. Dengan segala dinamika dan centang perenang, untuk saat ini, iktikad direksi dan manajerial klub untuk berbenah seyogianya tetap berbuah dukungan publik.

Telisik Statistik

Jika menelisik statistik, masalah fundamental Persis justru terletak pada performa kandang. Stadion Manahan seperti kehilangan tuah. Dari 10 laga kandang, Persis hanya meraih tiga poin hasil dari tiga kali imbang—tanpa satu pun kemenangan! Defisit 11 gol menjadikan Persis sebagai tim terburuk saat bermain di rumah sendiri. Rumput Manahan seolah menjadi taman yang nyaman bagi lawan. Ironisnya, performa tandang relatif lebih baik. Persis mengoleksi sembilan poin dari dua kemenangan dan tiga hasil imbang. Jika hanya dihitung laga tandang, Persis berada di peringkat 14. Artinya, ada anomali psikologis dan atmosferik ketika bermain di kandang.

Baca Juga: Derbi Mataram sebagai Kiblat Rivalitas

Bahkan saat memasuki putaran kedua—saat skuad dalam proses perombakan—raihan Persis tetap minor: takluk dari Borneo FC dan Persib Bandung, serta hanya bermain imbang dengan susah payah melawan Madura United. Rangkaian ini semestinya menjadi pemantik introspeksi untuk menggelorakan lagi tuah dan muruah Manahan.

Data Transfermarkt menunjukkan rata-rata penonton laga kandang Persis hanya 7.564 orang atau sekitar 37,8% dari kapasitas 20.003 kursi. Banyak faktor bisa menjelaskan: jadwal bukan hari libur, jam kerja, hingga performa tim yang buruk. Namun, bagi kota dengan basis pendukung masif, loyal, dan memiliki kultur-historis seperti Solo, angka ini tetap saja anomali.

Selaras dengan identifikasi Richard Giulianotti dalam Supporters, Followers, Fans, and Flaneurs (2002) yang menegaskan bahwa loyalitas suporter bukan semata-mata terbentuk karena hasil pertandingan, melainkan dari relasi emosional, historis, dan simbolik—dan persepakbolaan Solo, sekali lagi, memiliki basis kultural ini! Dengan demikian, jika kehadiran publik terus menunjukkan gejala penurunan, maka fans Persis harus kembali meredefinisi konsepsi, relasi, rasa memiliki, dan kebanggaan kolektif.

Leave a comment