Saat Momentum Menghilang dari Persis Solo

Momentum Persis Solo berpindah tangan.

Pergantian pemain yang dilakukan tak memberi dampak signifikan. Tekanan memang ada, tetapi tak cukup untuk meretakkan organisasi pertahanan lawan. PSBS justru terlihat semakin solid, semakin yakin bahwa satu poin adalah harta yang harus dijaga mati-matian.

Bagi Persis, hasil 1-1 terasa seperti malam yang terlewat begitu saja. Bukan karena mereka sepenuhnya buruk, tetapi karena mereka tak cukup berani. Dalam situasi genting, setengah keberanian sering kali sama dengan kegagalan.

Kini tersisa 12 laga. Secara hitung-hitungan, peluang selamat masih terbuka. Tetapi hitungan di atas kertas tak akan berarti tanpa keberanian menciptakan momentum baru. Kemenangan kandang menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar target.

Tugas besar ada di tangan pelatih untuk meramu pemain asing dan lokal menjadi satu kesatuan yang kolektif, bukan sekadar kumpulan individu yang bermain sendiri-sendiri. Persis tidak kekurangan penguasaan bola. Mereka tidak kekurangan usaha. Yang mereka butuhkan adalah keberanian mengubah satu gol menjadi dua, satu peluang menjadi kepastian.

Baca Juga: Menggelorakan Muruah Manahan

Karena dalam sepak bola, seperti kata Guardiola, pertandingan ditentukan oleh momen. Karena dalam sepak bola—seperti dalam fisika—momentum tidak pernah lenyap begitu saja.

Ia hanya menunggu siapa yang cukup berani untuk mengambilnya, menjaganya, dan tidak melepaskannya terlalu cepat. Dan waktu untuk menemukan momen itu tidak pernah menunggu terlalu lama.

Lihat galeri foto eksklusif di Instagram [@SambernyawaCom]

Leave a comment