
SAMBERNYAWA.COM — Semua pendukung Persis Solo tentu berharap adanya perubahan besar di bursa transfer paruh musim ini. Namun, perubahan yang terjadi justru terasa terlampau besar dan membuat situasi kian meragukan bagi nasib Laskar Sambernyawa di akhir musim.
Setelah kedatangan Vukasin Vranes, Dusan Mijic, Alfriyanto Nico, dan Miroslav Maricic, Persis Solo memang tak berhenti bergerak di bursa transfer. Yabes Roni dan Kadek Raditya menyusul bergabung. Luka Dumancic, Roman Paparyga, Andrei Alba, dan Clayton kemudian hadir. Namun, persoalan muncul ketika nama terakhir tidak jadi didaftarkan.
Baca Juga: Hadapi Derby Mataram, Milomir Seslija Pastikan Ambisi Persis Membara demi Raih Hasil Positif
Alasannya pun membuat sebagian pembaca menyeringai. Berdasarkan keterangan resmi klub, Clayton da Silva dinyatakan tidak layak berkompetisi di Super League karena sama sekali tidak bermain musim ini dan hanya tampil dalam laga ekshibisi di India bersama Diamond Harbour FC.
Persis Solo kemudian kembali bergerak dengan mendatangkan Jefferson Carioca dan Dimitri Lima. Namun, saga transfer belum berhenti. Top skor klub, Kodai Tanaka, dilepas dengan skema pinjaman yang dirumorkan menuju Dewa United. Kapten tim, Sho Yamamoto, juga dilepas dengan skema serupa.
Pola Bongkar Pasang Pemain Asing Persis Solo Sejak Promosi
Bagi yang mengikuti perjalanan Persis Solo sejak promosi ke kasta tertinggi, pola transfer semacam ini seharusnya bukan hal yang asing, terutama terkait pemain asing.
Saat promosi pada musim 2022/2023, Persis Solo mendatangkan sejumlah pemain asing, mulai dari Jaime Xavier, Aaron Evans, Gerard Artigas, Ryo Matsumura, hingga Alexis Messidoro. Mereka juga diperkuat pemain lokal seperti Taufiq Febriyanto, Gianluca Pandeynuwu, Kevin Gomes, hingga M. Kanu.
Pada musim tersebut, mayoritas pemain yang didatangkan terbilang tepat guna. Kecuali Gerard Artigas yang dilepas usai Piala Presiden dan Aaron Evans yang kerap dikritik karena inkonsistensi, para pemain anyar masih menunjukkan kontribusi positif. Hasilnya, tim asuhan Leo Medina mampu finis di posisi ke-10 klasemen akhir.
Memasuki musim 2023/2024, Persis Solo kehilangan Ryo Matsumura yang hengkang ke Persija Jakarta. Untuk mengisi slot Asia, Persis mendatangkan Diego Bardanca, disusul Moussa Sidibe, Roni, dan Fernando Rodriguez. Paruh musim menjadi fase yang sulit bagi Persis Solo.
Duet Fernando Rodriguez dan Roni di lini depan tak berjalan efektif. Keduanya kesulitan mencetak gol maupun membantu transisi saat tim kehilangan bola. Moussa Sidibe juga kerap dikritik karena terlalu banyak melakukan atraksi ketimbang memberi kontribusi nyata.
Di lini belakang, Diego Bardanca lebih banyak berkutat dengan cedera pinggul kambuhan. Jaime Xavier yang berduet dengan Rian Miziar pun belum mampu memberikan perlindungan maksimal bagi Riyandi. Hanya Alexis Messidoro yang tampil konsisten dengan kerja kerasnya di setiap laga.
Pada paruh musim, Persis Solo mendatangkan Sho Yamamoto dan melepas Fernando Rodriguez. Milomir Seslija masuk sebagai pelatih dan mengubah permainan menjadi lebih direct. Poros permainan berada pada Moussa Sidibe yang tampil impresif dengan sembilan gol dan lima assist, sekaligus menyelamatkan Persis di akhir musim. Kehadiran Sho Yamamoto dan Messidoro membuat Persis berbahaya dalam transisi maupun saat menekan lawan.
Blunder Administrasi hingga Perjudian Melepas Bintang
Musim 2024/2025 menjadi salah satu periode yang paling membingungkan dalam kebijakan transfer Persis Solo. Gonzalo Andrada, Karim Rossi, Facundo Aranda, Eduardo Kunde, dan Ricardo Lima didatangkan di awal musim. Namun, Milomir Seslija dalam konferensi pers seusai laga kelima melawan Persik Kediri menyatakan tidak satu pun pemain asing tersebut merupakan rekomendasinya.
Hal ini memunculkan tanda tanya besar terkait mekanisme transfer di dalam klub. Seorang pelatih kepala bahkan tidak mengenal pemain asing yang didatangkan. Milomir Seslija kemudian digantikan Ong Kim Swee di akhir musim, dan empat dari lima pemain asing anyar tersebut dilepas.
Masuklah Jhon Cley, Cleylton Santos, Lautaro Belleggia, dan Jordy Tutuarima. Ong Kim Swee yang menerapkan skema 4-4-2 atau 4-3-3 menitikberatkan kestabilan lini tengah. Para pemain asing tersebut berkontribusi cukup besar dalam upaya Persis bertahan di liga. Namun, kejanggalan kembali muncul dengan kedatangan Brylian Aldama pada paruh musim.
Perannya tidak pernah jelas. Brylian hanya sekali masuk daftar susunan pemain sebelum dipinjamkan ke Persela Lamongan, padahal saat itu opsi gelandang Persis sangat terbatas. Beruntung, Persis tetap selamat di akhir musim.
Memasuki awal musim ini, situasi sempat berubah. Pelatih diberi otoritas penuh untuk mendatangkan pemain sesuai kebutuhannya. Dengan mempertahankan Cleylton Santos, Jordy Tutuarima, dan Sho Yamamoto, pelatih Peter de Roo mendatangkan Xandro Schenk, Adriano Castanheira, Kodai Tanaka, Gervane Kastaneer, Fuad Sule, dan Mateo Kocijan. Namun, dua nama terakhir justru memunculkan persoalan sejak awal.
Kocijan yang disebut telah sepakat bergabung mendadak menghilang dan memilih pulang ke negaranya di detik-detik akhir dengan alasan rindu rumah, sebuah alasan yang dinilai tidak profesional.
Fuad Sule juga menyisakan masalah. Setelah kedatangannya, laman Transfermarkt sempat menandai biodatanya dengan catatan larangan bertanding sembilan laga di Eropa. Publik sempat lega setelah debut menjanjikannya melawan Madura United, tetapi persoalan baru muncul.
ILeague sebagai operator liga mengirimkan surat bahwa hukuman Fuad Sule tetap berlaku karena FIFA menyatakan sanksi tidak gugur meskipun berpindah konfederasi. Dalam kondisi panik, Persis mendatangkan Zulfahmi yang sebelumnya bermain untuk Bhayangkara FC.
Baca Juga: Tumbang dari Persib Bandung, Milomir Seslija Ungkap Progres sekaligus PR Persis Solo
Fuad Sule pun tidak pernah benar-benar bugar untuk bermain penuh selama 90 menit. Akibatnya, Zulfahmi harus bermain lebih dalam dan kehilangan stamina di babak kedua. Gervane Kastaneer juga belum mampu mereplikasi performanya bersama tim nasional Curacao saat bermain untuk Persis. Praktis, hanya Kodai Tanaka yang tampil menjanjikan.
Brylian Aldama pun masih menjadi tanda tanya, apakah dipinjamkan atau masih menjadi bagian dari skuad Persis Solo. Rangkaian saga transfer ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana klub dijalankan.
Hengkangnya Kodai Tanaka dan Sho Yamamoto bisa dipandang sebagai perjudian besar. Jika berhasil, keputusan tersebut akan terasa melegakan. Namun, apabila gagal dan Persis Solo justru terdegradasi, hal itu seharusnya menjadi bahan serius bagi manajemen untuk bertanggung jawab.
Lihat galeri foto eksklusif di Instagram [@SambernyawaCom]