Blunder Administrasi hingga Perjudian Melepas Bintang
Musim 2024/2025 menjadi salah satu periode yang paling membingungkan dalam kebijakan transfer Persis Solo. Gonzalo Andrada, Karim Rossi, Facundo Aranda, Eduardo Kunde, dan Ricardo Lima didatangkan di awal musim. Namun, Milomir Seslija dalam konferensi pers seusai laga kelima melawan Persik Kediri menyatakan tidak satu pun pemain asing tersebut merupakan rekomendasinya.
Hal ini memunculkan tanda tanya besar terkait mekanisme transfer di dalam klub. Seorang pelatih kepala bahkan tidak mengenal pemain asing yang didatangkan. Milomir Seslija kemudian digantikan Ong Kim Swee di akhir musim, dan empat dari lima pemain asing anyar tersebut dilepas.
Masuklah Jhon Cley, Cleylton Santos, Lautaro Belleggia, dan Jordy Tutuarima. Ong Kim Swee yang menerapkan skema 4-4-2 atau 4-3-3 menitikberatkan kestabilan lini tengah. Para pemain asing tersebut berkontribusi cukup besar dalam upaya Persis bertahan di liga. Namun, kejanggalan kembali muncul dengan kedatangan Brylian Aldama pada paruh musim.
Perannya tidak pernah jelas. Brylian hanya sekali masuk daftar susunan pemain sebelum dipinjamkan ke Persela Lamongan, padahal saat itu opsi gelandang Persis sangat terbatas. Beruntung, Persis tetap selamat di akhir musim.
Memasuki awal musim ini, situasi sempat berubah. Pelatih diberi otoritas penuh untuk mendatangkan pemain sesuai kebutuhannya. Dengan mempertahankan Cleylton Santos, Jordy Tutuarima, dan Sho Yamamoto, pelatih Peter de Roo mendatangkan Xandro Schenk, Adriano Castanheira, Kodai Tanaka, Gervane Kastaneer, Fuad Sule, dan Mateo Kocijan. Namun, dua nama terakhir justru memunculkan persoalan sejak awal.
Kocijan yang disebut telah sepakat bergabung mendadak menghilang dan memilih pulang ke negaranya di detik-detik akhir dengan alasan rindu rumah, sebuah alasan yang dinilai tidak profesional.
Fuad Sule juga menyisakan masalah. Setelah kedatangannya, laman Transfermarkt sempat menandai biodatanya dengan catatan larangan bertanding sembilan laga di Eropa. Publik sempat lega setelah debut menjanjikannya melawan Madura United, tetapi persoalan baru muncul.
ILeague sebagai operator liga mengirimkan surat bahwa hukuman Fuad Sule tetap berlaku karena FIFA menyatakan sanksi tidak gugur meskipun berpindah konfederasi. Dalam kondisi panik, Persis mendatangkan Zulfahmi yang sebelumnya bermain untuk Bhayangkara FC.
Baca Juga: Tumbang dari Persib Bandung, Milomir Seslija Ungkap Progres sekaligus PR Persis Solo
Fuad Sule pun tidak pernah benar-benar bugar untuk bermain penuh selama 90 menit. Akibatnya, Zulfahmi harus bermain lebih dalam dan kehilangan stamina di babak kedua. Gervane Kastaneer juga belum mampu mereplikasi performanya bersama tim nasional Curacao saat bermain untuk Persis. Praktis, hanya Kodai Tanaka yang tampil menjanjikan.
Brylian Aldama pun masih menjadi tanda tanya, apakah dipinjamkan atau masih menjadi bagian dari skuad Persis Solo. Rangkaian saga transfer ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana klub dijalankan.
Hengkangnya Kodai Tanaka dan Sho Yamamoto bisa dipandang sebagai perjudian besar. Jika berhasil, keputusan tersebut akan terasa melegakan. Namun, apabila gagal dan Persis Solo justru terdegradasi, hal itu seharusnya menjadi bahan serius bagi manajemen untuk bertanggung jawab.
Lihat galeri foto eksklusif di Instagram [@SambernyawaCom]

