M. Riyandi, Gianluca Pandeynuwu, dan Paradoks Kiper Persis Solo

Meski angka-angka tersebut tampak minor, secara data Riyandi memiliki pembelaan. Ia tercatat sebagai kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak ketujuh di liga, dengan total 52 penyelamatan. Artinya, jumlah kebobolan Persis Solo bukan semata-mata kesalahan Riyandi.

Salah satu contohnya, Persis Solo menjadi tim peringkat ketiga yang paling sering mendapatkan hukuman penalti, yakni enam kali. Jumlah tersebut hanya kalah dari PSBS Biak yang telah menerima sembilan penalti. Menariknya, Riyandi mampu menggagalkan dua dari enam eksekusi penalti tersebut, keduanya terjadi saat menghadapi Semen Padang.

Namun demikian, Riyandi dan Gianluca tetap dituntut untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pelatih. Pada musim ini, di era kepelatihan Peter de Roo, Riyandi dituntut lebih sering memainkan bola-bola pendek. Dalam laga melawan Persijap Jepara, Riyandi bahkan sempat mendapat teguran karena terlalu sering bermain direct melalui umpan panjang. Hal serupa juga dialami Gianluca Pandeynuwu saat laga melawan PSIM Jogja, ketika ia mengirimkan bola panjang ke depan.

Catatan Blunder Kiper Persis

Dua kiper Persis Solo itu juga tak sepenuhnya luput dari kesalahan. Dalam laga melawan Dewa United, Riyandi melakukan blunder yang berujung kekalahan telak 1-5. Ia juga lengah pada menit akhir saat Persis Solo takluk 0-1 dari Borneo FC. Padahal, pada laga tersebut Riyandi mencatatkan tujuh penyelamatan krusial. Andai mampu bertahan beberapa detik lebih lama, Persis Solo setidaknya bisa membawa pulang satu poin dari laga tandang tersebut.

Gianluca pun mengalami hal serupa. Saat menghadapi PSIM Jogja, kesalahan antisipasinya berbuah satu gol untuk lawan. Namun, kesalahan itu ditebus lewat satu assist yang ia ciptakan pada detik-detik akhir pertandingan.

Menilai bahwa performa Riyandi ataupun Gianluca sebagai penyebab utama rapuhnya lini belakang Persis Solo musim ini jelas tidak adil.

Namun, langkah manajemen Persis Solo seolah mengamini kalimat penutup dalam buku The Outsider, bahwa penjaga gawang memang tidak pernah ditakdirkan menjadi protagonis. Dalam sebuah permainan yang menempatkan gol sebagai tujuan utama, hanya penjaga gawang yang justru memiliki tugas sebaliknya.

Baca Juga: Dusan Mijic: Jenderal Lini Belakang Baru Laskar Sambernyawa

Riyandi dan Gianluca pun menjadi pihak yang paling mudah disorot sebagai kambing hitam di balik performa minor Persis Solo. Solusinya? Mendatangkan penjaga gawang yang dianggap memiliki kualitas lebih baik dibandingkan keduanya, alih-alih membenahi persoalan utama di Laskar Sambernyawa: Pelatih yang tepat, pemain yang sesuai kebutuhan taktik, manajemen yang peduli dengan tim dan pemilik yang tak cuci tangan saat ada masalah di Persis Solo. Rasanya, masalah Persis Solo tiap awal musim bisa dihentikan.

Baca berita Sambernyawa.com lainnya di Google News

Leave a comment