Kala itu tahun 2000 aku diajak ibu untuk melihat suporter kebanggaan Solo yang tak lain adalah Pasoepati bersiap-siap menuju ke Jogjakarta untuk mendukung Pelita Solo yang memang saat itu bermarkas di Stadion Manahan. Bus berjajar dengan rapi di halaman Stadion Manahan, bersiap mengangkut Pasoepati menuju ke Jogjakarta.

Di lain waktu saat sore hari, ayah mengajak ku untuk menyaksikan pertandingan antara Pelita Solo melawan PSIS semarang, seru katanya, namun aku yang belum terlalu paham kata seru dalam sebuah pertandingan sepak bola, sudah terjadi hal yang kurang mengenakkan. Banyak lemparan antar Suporter, kursi Stadion Manahan yang saat itu sudah dikatakan baik melayang ke tribun lain.

Dari kedua moment itu naluri ku dan rasa penasaranku sebagai manusia terbentuk, sepertinya sepak bola itu memang indah untuk dinikmati, hingga sudah tak terhitung lagi saya menyaksikan tim yang bermarkas di Solo bertanding di Stadion manahan, sampai tim kebanggan Solo yang tak lain Persis Solo menginjak kasta tertinggi dan kini (masih) bertahan di kasta kedua persepakbolaan negeri ini. Hingga suatu ketika lagu ‘Satu Jiwa’ berkumandang di seluruh penjuru Stadion Manahan,

– disini semua berawal
– disini kita berbagi, kesenangan …..
– rayakanlah pertemuan ini, slalu bersama apapun yang terjadi ….

Detak jantung pun terpompa semakin cepat, suara berteriak lantang menyanyikan, dan rasa nyaman sepertinya terbangun dr sebuah lagu.

Nyaman? Ya rasa nyaman buat semua penikmat sepakbola, perempuan, anak-anak, penyandang disabilitaspun terasa nyaman untuk datang dengan hati riang menuju Stadion Manahan.

Tapi, ada kalanya kenyamanan itu terusik oleh sebuah ‘kebodohan’ , teriakan kata kasar, ‘oknum’ suporter yang beringas, dan tak pandang bulunya mereka merusak fasilitas di Stadion Manahan, ataupun ‘oknum’ yang saling bertukar batu maupun botol air mineral.

Hmmm…
Itu hanya sekelumit cerita, cerita bagaimana Stadion Manahan dalam dua sisi mata uang bagi penikmat sepak bola, disatu sisi Stadion Manahan yang nyaman, namun disisi yang lain Stadion Manahan akan menjadi benteng oleh ‘oknum’ yang suka keributan.

Bagi yang belum tahu, Stadion Manahan adalah persembahan dari yayasan Ibu Tien Soeharto. Pembangunannya dimulai pada tahun 1989 dengan menggunakan lahan seluas 170.000 m2 dan luas bangunan 33.300 m2. Butuh waktu 9 tahun untuk mengubah lahan kosong menjadi Stadion Manahan kokoh bangunan. Dan tepat pada hari Sabtu 21 Februari 1998, stadion Manahan akhirnya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, H.M.Soeharto.

Kembali ke masa lalu, namun bukan kenangan mantan ya, ingat bukan mantan, beberapa tahun setelah diresmikan, Stadion Manahan menjadi markas tim Sepakbola dari Jakarta, Pelita namanya dan menambah Solo saat sudah bermarkas di Solo. Pelita Solo yang sangat identik dengan warna Merah, menjadi Tim pertama yang bermain di Stadion Manahan dalam sebuah kompetisi resmi Liga Indonesia.

Merah dari Pelita Solo bisa jadi sebuah alasan pula masyarakat di Solo membentuk sebuah wadah suporter resmi bernama Pasoepati yang berjanji akan setia mendukung Tim yang bermarkas di Kota Solo.

Suara pun tak pernah berhenti dikumandangkan Pasoepati setiap Tim bermain, bahkan sampai Pelita meninggalkan Stadion Manahan dan berganti dengan tim yang lain yaitu Persijatim Solo FC hingga kini Tim Kebanggan Kota Solo yaitu Persis Solo. Dari awal hingga saat ini Merah selalu identik dengan Stadion Manahan.

– Abang abang kuwi dudu setan
– Pasoepati edan tapi mapan
– Klambi abang seng duwe Manahan
– Uwong Solo seng terkenal Sopan …

Dari beberapa bait ‘chant’ tersebut, sudah bisa menggambarkan bagaimana suasana di dalam Stadion Manahan kala Tim bertanding, Abang, Mapan, Sopan.

Stadion Manahan yang kisaran tahun 1998 – 2000an awal sudah sangat megah di negara ini, memang sangat nyaman untuk penikmat sepakbola sampai penyandang disabilitas pun dipersilahkan hadir gratis serta diberikan tempat tersendiri untuk menikmati pertandingan.

Diluar sisi dalam Stadion, masyarakat di Kota Solo bisa berolahraga mulai dari sekedar jalan kaki, lari, basket, skateboard hingga bersepeda. Fasilitas yang cukup untuk memompa keringat keluar dari badan hingga menurunkan perut yang sudah kian membuncit.

Oh iya, Timnas Indonesia pun sudah berkali-kali melakukan pertandingan di Stadion Manahan. Tak cuma Timnas terkadang ada tim lain yang menggunakan Manahan untuk melanjutkan pertandingan karena tidak mendapatkan ijin dari Pihak Kepolisian maupun tidak layaknya Stadion tim lain untuk berkompetisi di pertandingan Internasional.

Seperti Persik Kediri tahun 2007 menggunakan Stadion Manahan berkompetisi berkompetisi di Champions Asia, maupun babak2 lanjutan 8 besar hingga Final kompetisi Liga Indonesia dan bagi saya puncaknya adalah diselenggarakannya event Asean Paragames di Stadion Manahan pada tahun 2007.

Tahun berganti tahun, Manahan yang sudah terawat di rumputnya serta nyaman untuk menyaksikan pertandingan, ada sisi lain dari mata uang yang sudah saya bahas diatas, oknum masyarakat masih kurang dewasa untuk (sekedar) merawat Stadion kebanggaan Kota Bengawan ini.

Banyak coretan-coretan yang tak elok dipandang mata, seluruh penjuru tribun bisa dikatakan terdapat coretan yang entah maksudnya apa, serta tidak dirawatnya kamar mandi di Stadion Manahan. Banyak masyarakat karena tidak terawatnya kamar mandi membuang air seni nya di sembarang tempat, bau-bau tak sedap pun selalu menemani penikmat sepakbola.

Tahun berganti tahun hingga tahun kini Stadion Manahan mulai ditinggalkan untuk menggelar pertandingan Timnas, mungkin dikarenakan sudah banyaknya berdiri megah Stadion di Negara Indonesia, semua kota terlihat berlomba-lomba membangun Stadion kebanggan di masing-masing daerah.

Di awal tahun 2018, mendapat sebuah berita bahwa Stadion Manahan akan direnovasi menjadi Stadion yang lebih megah dan berstandart International. Berita itu ternyata bukan sebuah isapan jempol Manahan akan berbenah, blueprint Stadion Manahan sudah menghiasai beberapa laman berita lokal maupun nasional.

Dan kini benar adanya Stadion Manahan sedang dibangun, menggunakan dana tak kurang 200 milyar, oleh Kementrian PUPR akan disulap lebih megah, tribun tertutup akan melingkar menutupi penikmat sepakbola dari terik cahaya matahari, pencahayaan akan berada disetiap tribun dan tidak lagi menggunakan tiang penyangga. Penikmat sepakbola yang hadir juga akan semakin nyaman dengan tempat duduk disemua tribun.

MERAH , ya saya lihat blueprint bangunan ini akan semakin MERAH, MERAH akan semakin identik dengan Stadion Manahan, mungkin gambaran itu yang akan saya dapatkan saat Stadion Manahan sudah selesai disulap pada tahun 2019 nanti. Semakin megah dan semakin bangga tentunya memiliki Stadion Manahan.

Kelak akan banyak event2 International diselenggarakan di Stadion Manahan alasan lain karena jarak Bandara yang sangat dekat, Bandara Adi Soemarmo dan Stadion Manahan hanya berjarak sembilan kilometer dengan jalanan yang mulus. Hotel-hotel juga sudah berdiri sangat banyak untuk menampung animo masyarakat yang akan menyaksikan event-event tersebut.

Pesan saya, sebagai sesama penikmat sepakbola yang pasti juga bangga memiliki Stadion megah di Kota Solo tercinta, bersikaplah dewasa untuk setiap saat menggunakan fasilitas di Stadion Manahan, tak perlu lagi coret-coret, buanglah sampah pada tempatnya, tak lupa juga tindakan beringas yang kadang masih terjadi tidak lagi dilakukan, kumandangkan suara dengan lantang tanpa terucap kata-kata kotor, karena semakin nyaman Stadion Manahan semakin banyak penonton yang hadir dan berimbas ke pemasukan klub Persis Solo tercinta.

Rawatlah Manahan seperti rumah sendiri.

Tak lupa juga sedikit berpesan untuk Kementrian PUPR untuk membangun mushola yang cukup besar, karena saat menonton bola kita juga tidak lupa untuk beribadah, dan untuk pengelola Stadion Manahan untuk merawat kamar mandi agar Suporter maupun penikmat sepakbola tidak kencing di sembarang tempat.

Untuk terakhir kali di tulisan ini, mari berteriak bersama JAYALAH PERSIS SURAKARTA karena MERAH TAK AKAN PERNAH PADAM

Catatan dari Ade Yokky Pratamananda,

Admin Sambernyawacom yang kini “memerahkan” Pulau Dewata.

 

Leave a Reply