Persis Solo benar-benar membuat kejutan musim ini. Mengawali laga perdana dengan melibas Semen Padang 3-0, skuad racikan tiga pelatih, hampir empat pelatih secara estafet ini secara mengejutkan gagal melaju ke babak 8 besar Liga 2 2018.

Persis Solo gagal lolos meski mengoleksi 35 poin. Koleksi ini sama seperti Persiraja Banda Aceh, Persita Tangerang dan Aceh United. Laskar Sambernyawa kalah head to head dengan ketiga tim tersebut.

Hasil ini tentu sangat-sangat mengecewakan. Dan juga baper. Tim yang sudah ditulis “lolos ke 8 besar” oleh media, juga dalam akun-akun instagram, malah harus angkat koper. Sekarang suporter Persis Solo diliputi kekesalan dan mungkin akan tambah baper, karena beberapa pemain idolanya akan membela tim lain di babak 8 besar nanti.

Tak perlu ada yang disalahkan dari kegagalan ini. Kenapa? Karena dalam dua kegagalan sebelumnya, kita sudah saling menyalahkan. Kalau sekarang masih ada yang disalahkan pun, hasilnya juga sama. Tetap saja PSSI tidak akan “tiba-tiba” menggelar playoff dengan peserta tim-tim pengoleksi 35 poin. Wes to, tetap tidak lolos. PSSI-nya sudah beda dengan yang dulu-dulu, yang sitik-sitik playoff.

Sekarang sudah tidak zaman saling menyalahkan. Lebih milenial-nya, kita mengevaluasi sebuah kinerja dengan harapan kesalahan sama tak terulang lagi. Kesalahan itu apa? harus diakui dan mohon maaf, manajemen sekarang terlalu-terlalu-terlalu menyerap aspirasi suporter!

Menyerap aspirasi suporter, dalam kaitan “WC di tribun bau, perlu dibersihkan”, “Tiket terlalu mahal, bisa agak diturunkan”, “Main Malam Saja, Karena Sore Masih Kerja”, itu bisa dimengerti dan harus diserap aspirasinya. Tapi kalau sudah masuk hal teknis, salah satunya pergantian pelatih, tentu itu harus dikoreksi lagi.

Siapa pelatih itu? ya semuanya dalam dua musim ini!

Pelatih adalah posisi yang sangat penting dalam sebuah klub. Tentu dalam memilih, memilah dan kemudian memutuskan, butuh pertimbangan yang sangat-sangat matang. Apalagi ini klub sepak bola, pelatih biasanya diproyeksikan dalam jangka panjang. Memilihnya harus benar-benar teliti. Ketika sudah ditetapkan, berarti ya harus benar-benar diberikan kepercayaan.

Terdekat saja, sudah tak terhitung berapa jumlah orang yang bertanya “Kenapa Jafri Sastra Diganti?”. Pertanyaan bukan hanya datang dari suporter klub lain. Melainkan juga pelatih grup barat, pelatih grup timur, pengurus, pemain, sampai para jurnalis luar daerah. Sampai ada pelatih yang bilang, “Ngeri ya Solo, runner up aja masih dipecat (Jafri Sastra dipecat saat Persis Solo masih peringkat Dua).”

Apakah pelatih diganti gara-gara tidak menang dalam enam partai berturut-turut? Gara-gara di instagram isinya suporter meminta Jafri Sastra dipecat?

Coba kita bedah enam partai itu. Dari enam pertandingan, Persis Solo meraih hasil imbang empat kali dan kalah dua kali. Dari enam partai itu, hanya satu laga yang berstatus tuan rumah. Itu pun Persis Solo untuk kali pertama main di Stadion Wilis Madiun. Laskar Sambernyawa hanya sekali latihan dan besoknya main dengan status tuan rumah rasa away.

Satu dari dua kekalahan itu terjadi di Piala Indonesia 2018. Kita dikalahkan Persinga Ngawi 0-1. Apakah kita punya target di turnamen ini?. Jawabannya, TIDAK!. Apalagi pada waktu yang hampir bersamaan, Persiraja Banda Aceh dan Perserang Serang yang jadi kompetitor grup barat juga tersingkir dari Piala Indonesia. Semua fokus pada satu tujuan, mendapat tiket babak 8 besar dan lolos ke Liga 1 2019.

Setelah berganti pelatih, dari segi permainan maupun hasil pertandingan tak lebih baik. Dari sembilan partai, Persis Solo mencatatkan empat kemenangan, sekali seri dan empat kali menelan kekalahan. Sekali hasil imbang terjadi saat berstatus tim tuan rumah juga. Artinya apa, pergantian pelatih sesungguhnya bukan solusi dari sebuah tren penurunan saat kompetisi sedang berlangsung.

Dalam sebuah tim, situasi sulit biasa terjadi. Naik dan turunnya hasil sudah hal lumrah. Manchester United yang berjaya bersama Sir Alex Ferguson pernah merasakannya. Mulai masuk musim 1986/1987, Fergie awalnya tak menghadirkan prestasi untuk United. Bahkan dia mengalami periode kritis saat kalah 1-5 dari Manchester City pada musim 1989/1990. Padahal pada musim itu, Fergie mendatangkan pemain-pemain baru.

Suporter United marah akan prestasi Fergie. Mereka murka dan mengkritik kinerja Fergie. Mereka meminta manajemen untuk memecat Fergie, dengan dalih selama tiga musim tak menghadirkan prestasi. Itu terjadi pada bulan Desember 1989. Tapi apa yang dilakukan manajemen United? Fergie kembali diberi kepercayaan.

Setelah kejadian itu, Fergie ternyata sukses menghadirkan gelar pertama untuk United. United menjadi juara Piala FA 1990 setelah mengalahkan Crystal Palace dalam partai ulangan, karena pertemuan pertama imbang. Piala FA adalah pembuka!

Setelah gelar itu, Fergie memberikan 48 piala bergengsi lain kepada United. Total 49 gelar! Tak bisa dibayangkan jika manajemen United menuruti kemauan suporter untuk memecat Fergie pada Desember 1989. Mungkin setiap musimnya, mereka juga akan gonta-ganti pelatih tanpa ada harapan dan jaminan sebuah prestasi. Tiap akhir atau tengah musim cuma ngetweet “terima kasih atas dedikasinya selama ini kepada Manchester United”.

Itu contoh di Eropa. Di Indonesia juga ada. Persija sempat menghadapi situasi sulit saat dilatih Stefano Cugurra. Dalam lima pertandingan bersama Teco di Liga 1 2017, Persija hanya mencatatkan satu kemenangan, satu kali seri dan tiga kali menelan kekalahan. Desakan agar manajemen memecat Teco muncul. Tepatnya pada bulan Mei 2017. Namun langkah manajemen Macan Kemayoran, mereka tetap percaya pada Teco.

Prestasi kemudian dicatatkan Persija pada Liga 1 2017. Mereka menempati posisi empat klasemen akhir. Persija mencatatkan 17 kemenangan, 10 hasil seri dan tujuh kali kalah. Mereka berhak main di AFC Cup 2018, karena Bhayangkara FC sebagai peringkat satu tak bisa main di kompetisi Asia. Turnamen tingkat Asia ini sudah lama sekali tak diikuti Persija. Persija mencapai itu bersama Teco.

Layaknya Sir Alex Ferguson, Teco kembali memberi pembuktian. Pada Februari 2018, Persija akhirnya mengakhiri puasa gelar setelah menjadi juara Piala Presiden 2018. Mereka merengkuh juara setelah melibas Bali United 3-0 dalam partai final di Gelora Bung Karno. Sekali lagi, Persija mengakhiri puasa gelar bersama pelatih Brazil bernama Stefano Cugurra alias Teco.

Jika melihat Persija musim ini, mereka dengan status tim nomaden bisa ada di peringkat tiga, dibawah Persib Bandung dan PSM Makassar. Dari 25 partai, Persija mencatatkan 12 kemenangan, enam hasil seri dan tujuh kali menderita kekalahan. Pencapaian yang tak main-main.

Contoh lain lagi, Semen Padang yang tahun ini jadi rival Persis Solo. Musim ini Semen Padang bersama Syafrianto Rusli sempat mengalami periode buruk setelah tujuh kemenangan beruntun. Semen Padang secara mengejutkan takluk di pekan ke-9 (Perserang 0-1) dan 11 (Cilegon United 0-1). Sementara pada pekan ke-10, Semen Padang ditahan imbang PSPS Riau 1-1 di markasnya sendiri.

Senjata pamungkas netizen Semen Padang bermunculan. “Pelatih futsal kok disuruh nglatih tim sepak bola!.” (Syafrianto Rusli, Pelatih Futsal Sumbar di PON 2012 dan jelang PON 2016). Kalimat itu juga memenuhi instagram Semen Padang saat dilibas Persis Solo 0-3 pada pembuka Liga 2 2018.

Tapi bisa kita lihat setelah itu, Semen Padang menjadi tim pertama yang memastikan lolos dari grup barat ke babak 8 besar. Semen Padang pula yang memastikan langkah Persis Solo terhenti di Liga 2 2018.

Bila melihat dari pengalaman Manchester United, Persija Jakarta dan Semen Padang, ternyata menuruti kemauan suporter berbasis lisensi pelatih A Facebook dan Instagram bukan hal tepat. Manajemen lah yang seharusnya lebih paham dan memberi kepercayaan penuh kepada pelatih yang sudah dipilihnya secara matang-matang.

Ini adalah gambaran, atau belajar dari pengalaman jikalau pergantian pelatih ditubuh Persis Solo memang benar-benar karena desakan suporter berbasis lisensi pelatih A Facebook dan Instagram. Tapi semoga saja prasangka ini salah. Semoga saja, memang ada alasan lain dibalik keputusan gonta-ganti pelatih dalam dua musim ini.

YA SUDAHLAH, NGGAK USAH DIBAHAS LAGI!

Lagi-lagi, kita tidak usah saling menyalahkan. Sekarang kita tatap kedepan. Kita mau apa musim depan? atau lebih milenial lagi, kita mau berada pada level mana di perjalanan menuju 100 tahun berdirinya Persis Solo. Apakah pada 2023 nanti, Persis Solo masih montang-manting di Liga 2? Masih mempertanyakan regulasi head to head lagi?

Sebelum beranjak ke Liga 1, kita bangun saja pondasi tim ini. Tim profesional, bukan karena sudah dikelola PT, tapi memang benar-benar profesional. Persoalan pertama dan persoalan yang ada dari jaman Javier Roca masih dielu-elukan. LAPANGAN LATIHAN!!! Mosok tim target Liga 1 latihan di lapangan yang bahkan harus dicari bagian ratanya, untuk main sentuhan bola datar. Atau dicari bagian empuknya karena bagian lain atos.

Dalam sebuah jumpa pers di Kantor Persis Solo tahun ini, Sekjen Persis Solo Dedi M Lawe pernah mengatakan, pengurus sudah menyiapkan lahan untuk dibangun sebuah tempat latihan. Ada harapan, pengerjaan lapangan bisa dimulai tahun ini. Tahun ini, berarti 2018. Kalau begitu, ya sudah, sekarang fokus bangun lapangan latihan saja.

Tahun ini pula, atau malah dari tahun 2017, PT Persis Solo Saestu pernah punya mimpi untuk meraih pendapatan dari penjualan merchandise. Katanya, akan membuka pusat bisnis, salah satunya kuliner, di kantor Persis Solo. Selain meraih pendapatan, sektor bisnis ini juga dikatakan bisa menyerap atau membantu UMKM di Kota Solo.

Ya sudah, mumpung nggak ikut 8 besar, sekarang bisa dicicil bangun tempat bisnis dan cari jaringannya. Kan sudah ada juga kerja sama dengan BUKALAPAK! (Hai kaks Oci! (Ambrosia, Activation Manager Bukalapak).

Kalau lapangan jadi, berarti tim bisa serius berlatih setiap hari, tanpa bingung cari tempat latihan. Pemain tidak cedera karena kejeglong lubang tersembunyi di hamparan rumput hijau. Kalau sektor bisnis jalan, berarti tinggal mengajak para pendukung Persis Solo menyemarakannya. Kalau sudah jalan, berarti ada potensi pendapatan dari sektor bisnis itu.

Kalau pondasinya sudah jadi, baru kita bisa berkata untuk target lolos ke Liga 1. Entah itu target Liga 1 2020, Liga 1 2021 atau Liga 1 2022. Neng yo ojo bangeten, 2023 jik montang-manting neng Liga 2.

Soal pemain, kita punya tabungan pemain-pemain junior yang sekarang mulai dapat tempat di tim Liga 1, Liga 2 atau Liga 3. Anggaplah sekarang mereka sedang berguru, dan akan balik pada saat dibutuhkan.

Waktunya masih panjang untuk mencapai puncak prestasi pada perayaan 100 tahun berdirinya Persis Solo pada 2023 nanti. Prestasinya tentu papan atas liga domestik dan mencicipi atmosfer kompetisi Asia. Buktikan, bahwa Persis Solo bisa lolos ke Liga 1, tanpa harus menunggu Guardiola melatih Arsenal. Sekian dulu eaaaa…

*Tulisan ini sudah terpikirkan sejak lama. Tapi baru punya niatan nulis dalam perjalanan pulang dari Kendal, setelah menyaksikan kemenangan Persiraja atas Persik Kendal 3-1 di Stadion Utama Kebondalem, Kendal, Senin (15/10/2018). Juga setelah memantau live score, Perserang mencetak gol ke gawang Persita Tangerang.

Comment List

  • Hehe 17 / 10 / 2018 Reply

    Mantap min

  • Mule 18 / 10 / 2018 Reply

    Karena mimpi-mimpi juga butuh bisa di persiapkan kalau ingin di wujudkan. Karena semua ada prosesnya, bukan sekedar lolos liga 1 dan (juga) montang-manting di liga 1 karena soal manajemen, lapangan, pelatih, pemain dll nya serta ATTITUDE.
    Salam edan tapi mapan !

Leave a Reply