Musim ini sangat menyenangkan melihat Stadion Manahan Solo. Setiap Persis Solo bertanding, seluruh tribun terisi lebih dari setengah bahkan full. Persis Solo pun selalu menang saat main di kandang sendiri.

Dalam enam pertandingan, Persis Solo mendapatkan empat kemenangan dan mengalami dua kekalahan. 12 poin menempatkan skuad besutan Jafri Sastra di posisi dua, menempel Semen Padang dengan koleksi 15 poin.

Tentu saja catatan ini bagus. Persis Solo masuk zona 8 besar Liga 2. Artinya target ke Liga 1 2019 kembali terbuka lebar. Persis Solo bisa membayar kegagalan 2014 dan 2017.

Sama seperti hukum alam apapun, prestasi naik pasti akan diikuti peningkatan jumlah suporter yang datang ke stadion. Sekarang yang datang ke Manahan bukan saja suporter militan Persis Solo.

Mereka mulai berani mengajak anggota keluarganya ke stadion. Para pemain juga selalu membawa sang putra-putri datang. Biasanya, para pemain ini mengajak sang anak ke lapangan, saat tim dan seisi stadion menyanyikan lagu Satu Jiwa.

Artinya hal ini berhasil. Branding Persis Solo dan sepak bola modern di kota Solo sudah terbentuk. Bila dianalisis dengan betul, sudah lama sekali suasana Manahan tak seenak ini.

Stadion Manahan menjadi destinasi keluarga. Di kampung-kampung terlihat lagi anak kecil mengenakan baju Persis Solo. Kita semua tahu bahwa menciptakan hal seperti ini tidaklah mudah.

100 persen yakin, para pemain lawan pun punya keinginan berseragam Persis Solo pada musim depan. Ini artinya, Persis Solo akan sangat mudah mendatangkan pemain berkualitas.

Namun di tengah euforia ini, sebuah hal bodoh kembali terdengar jelas. Diteriakkan bukan satu orang, tapi ada banyak orang. Kata kotor, rasisme yang sudah lama menghilang dari Manahan, kembali terdengar lagi.

Sulit untuk memahami motivasi berteriak Jogja B**ing**. Satu grup tidak, bertemu juga tidak, bersinggungan juga tidak. Dan lebih penting lagi, saat ini Persis Solo setingkat dibawah pemuncak klasemen dan mereka setingkat diatas tim juru kunci.

Ketika berbicara sepak bola modern, logika kita juga harus ikut modern. Teror kepada lawan itu wajib. Itu penting. Sebagai pemain ke-12, kita harus ikut menekan mental lawan agar jatuh. Ketika mental lawan jatuh, pemain pujaan kita dengan mudah mengembangkan permainan. Dengan mudah mencetak gol. Dengan mudah meraih kemenangan.

Apakah dengan berteriak Jogja B**ing**, mental pemain-pemain dari tim grup barat akan jatuh? tentu saja tidak. Tim Jogja tidak ada di grup barat. Mereka juga belum tentu ada di babak 8 besar. Pun juga dengan Persis Solo. Siapa yang berani menjamin musim ini bisa lolos 8 besar?

Sebaliknya, anak-anak polos, lugu nan imut sedang tumbuh dengan mengenal hal-hal baru. Mereka dalam masa mempelajari sebuah bahasa. Untuk berucap, untuk berkomunikasi dan untuk dibanggakan orang tuanya ketika sang anak sudah pandai bertutur kata.

Datang ke Manahan, mereka mendapat kosakata baru untuk bisa dipamerkan di rumah atau sekolahnya. Jogja B**ing**. Sebenarnya apa untungnya mengumbar sebuah kebencian?.

Kita tidak bisa menutup mata, ada berapa banyak masyarakat Solo yang bekerja di Jogja. Ada berapa banyak mahasiwa yang berkuliah di Jogja. Apakah mereka juga harus jadi korban atas teriakan-teriakan bodoh di Manahan?

Suporter atau pecinta sepak bola itu minoritas. Kenapa disebut minoritas?. Mari kita berhitung, contoh kota Solo saja. Ada berapa penduduk kota Solo yang berangkat ke Manahan? Apakah perbandingannya imbang, antara yang datang ke Manahan dengan yang sedang di rumah, basket, mancing, voli, kicau mania, berdagang, nongkrong, nggosip, ngrasani dan aktivitas-aktivitas lainnya?

Bila berbicara tentang sepak bola dan fanatisme, kita tidak boleh egois. Kita tidak boleh mengumbar kebencian dalam bidang sepak bola ke ranah kehidupan yang lain. Urusan sepak bola ya selesaikan di lapangan saja. Itu logika sehat dan modern bila menempatkan seorang pecinta sepak bola dalam kehidupan bermasyarakat.

Lalu, sebagai pecinta sepak bola dalam sebuah pertandingan, jadilah humas yang baik. Jadilah penikmat yang sesuai jalurnya. Apakah kita tidak senang, jika perbandingan antara yang datang ke Manahan dengan yang berada di rumah menjadi kebalik?. Ada ratusan ribu orang yang memenuhi Kelurahan Manahan, khususnya Komplek Stadion Manahan. Itulah kemustahilan yang selalu diusahakan.

Berteriak Jogja B**ing** itu…..

Sebagai pecinta sepak bola yang modern, kita bisa berperan dalam sendi-sendi kehidupan di negeri ini. Mari kita beri contoh. Jangan suka membenci. Jangan suka mengungkapkan kebencian. Jangan suka mengumbar kebencian.

Malu sama Jepang. Suporter Jepang bisa mengharumkan negaranya karena sikap mereka saat ada di stadion. Memberikan dukungan, mengumbar senyuman dan terpenting, menjadi citra yang baik bagi benua yang katanya dunia ketiga.

Mari kembalikan Manahan sebagai tempat yang nyaman menyaksikan sepak bola, mengeluarkan segala energi untuk tim kebanggaan. Menjadi tempat mengenal kosakata yang indah, menjadi tempat untuk sejenak meninggalkan pandangan mata dari layar ponsel kita. Dan terpenting, jangan lupa film Tsubasa update setiap hari Selasa…

One Comments

  • Budi Feriansyah 05 / 07 / 2018 Reply

    Hahahaha lha tribun lain yg bawa banner ttg psim kok beritanya ga diangkat ya?

Leave a Reply