SOLO,sambernyawa.com – Tahun ini menjadi hal yang kembali tak mengenakkan bagi pecinta sepak bola Solo. Bila 2011-2013 lalu ada dualisme klub, kini ada dua klub dengan nama identik, namun punya perusahaan berbeda.

Persis Solo dan Persis Muda atau kemudian menjadi Persis Gotong Royong (GR). Sejatinya, dua klub ini bukan berbeda. Mereka adalah keluarga serumah yang punya benang merah. Persis GR dibentuk pada 2015 lalu. Tujuannya memberi wadah bagi pemain jebolan piala Soeratin untuk menambah jam terbang di kompetisi Liga 3.

Namun pada awal tahun ini, keduanya sudah bercerai. Sama sekali tidak ada benang yang menghubungkan. Persis Solo dikelola PT Persis Solo Saestu (PT PSS) serta Persis GR dikelola PT Persis Gotong Royong. Persis GR bukan lagi bermaterikan seluruh putra daerah. Hanya tersisa beberapa, namun kebanyakan direkrut dari penjuru Tanah Air.

Dari kabar yang beredar, awalnya pemodal Persis GR juga berencana membeli saham mayoritas PT PSS. Namun kala itu dana yang ditawarkan tak disetujui pemilik saham mayoritas PT PSS.

Adanya permasalahan RUPS pada awal tahun ini membuat hubungan PT Syahdhana Properti Nusantara dengan pengurus lama Persis Solo retak. Akhirnya pemodal itu tertarik untuk mengembangkan Persis GR. Dengan dana yang melimpah, segala fasilitas dipunya Persis GR. Mereka bahkan menjadi satu-satunya tim Liga 3 yang tak pernah berhenti latihan selama 8 bulan. Punya kantor sendiri, bus sendiri, mes sendiri dan lain sebagainya.

Tapi takdir berkata lain. Persis GR yang digadang-gadang bakal lolos ke Liga 2 justru terhenti di putaran 32 besar Liga 3. Kini tim besutan Eduard Tjong itu sudah resmi dibubarkan. Belum diketahui akankah rencana pergantian nama dan logo musim depan akan berlanjut. Belum tahu juga apakah Persis GR akan tetap berada di Liga 4.

Namun yang pasti, bukan hal sulit bagi pemodal Persis GR untuk membeli lisensi klub untuk berlaga di Liga 2 musim depan. Sebuah info menyebut, ada seseorang dari Solo yang tertarik membeli lisensi salah satu peserta Liga 2 musim depan. Bila info itu benar, berarti tidak perlu lagi ditanyakan, siapa yang membeli.

Tapi, biarlah itu menjadi sebuah pertanyaan. Biar waktu yang menjawabnya nanti…

Kita terfokus pada pertanyaan, mungkinkah Persis Muda Kembali ke Tujuan Awal?. Tujuan awalnya adalah memberi kesempatan bagi pemain jebolan tim soeratin untuk mendapat jam terbang di kompetisi Liga Indonesia.

Banyak yang salah mengartikan tentang pernyataan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo saat pelepasan Persis GR di Loji Gandrung, beberapa waktu lalu. Bagi wartawan yang kerap meliput, “Persis” itu punya arti lain bagi seorang walikota. Persis bukan sebuah tim. Namun kata yang memiliki arti “sepak bola Solo”.

Jadi ketika ada kalimat, “Ada dua Persis di Liga 2 juga tidak apa-apa”. Itu berarti “Ada dua klub sepak bola di Solo juga tidak apa-apa”. Kata selanjutnya “Kan itu untuk bank data pemain Solo. Dari Persis GR, setelah itu mau diambil ke senior ya tidak masalah. Tergantung pembicaraan dari kedua manajemen.”

Dalam artian, sebenarnya benang merah kedua tim masih ada. Kedua tim ini diharapkan tetap bersinergi, bukan malah bersaing. Rudy juga sempat menyayangkan ketika Fredyan Wahyu justru membela PSMS Medan pada Liga 2 kemarin. Pada akhirnya, dia yang mengantarkan PSMS ke Liga 1. Sementara Persis Solo masih harus berkutat di Liga 2.

“Kita yang membesarkan, justru tim lain yang mendapatkan hasilnya.”

Bila Persis Muda bisa kembali ke tujuan awal, tentu akan banyak pemain Solo yang berpeluang menjadi besar. Mereka kembali jadi tim satelit. Layaknya tim Maung Anom yang bermaterikan Diklat Persib Bandung, Celebest FC yang berhubungan dengan Bali United atau sebelumnya ada Persija Muda yang jadi tempat untuk memoles potensi-potensi Jakarta.

Lalu bagaimana dengan pemodal Persis GR? RUPS PT Persis Solo Saestu akan digelar Januari mendatang. Akankah ada saham yang dijual? Kita sama-sama belum tahu. Namun jika keduanya bersatu, pastinya tidak akan ada lagi tim satu keluarga yang bersaing. Tidak ada lagi dualisme nama Persis. Solo hanya ada satu tim.

Mungkinkah? ya mungkin saja…kan sama-sama orang Solo yang ingin mengangkat sepak bola Solo. Tapi kalau mau ada “Derby London, Derby Manchester, Derby Madrid” ya tidak masalah juga. Karena memang seseorang pasti sudah memiliki pandangan tersendiri untuk membanggakan kota Solo.

“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar, – Imam Asy-Syafi’i

selamat hari senin, mari berdiskusi.

Leave a Reply