SOLO,sambernyawa.com – Persis Solo kembali masuk babak 8 besar kompetisi strata kedua Indonesia. Laskar Sambernyawa tetap mengusung semangat yang sama. Liga 1 2018 jadi bidikan tim besutan Freddy Muli.

Kesempatan ini menjadi yang kedua dalam dua musim kompetisi resmi terakhir. Tiga tahun lalu, Persis Solo juga lolos babak perempatfinal. Namun kala itu perjuangan justru berakhir antiklimaks.

Laskar Sambernyawa menduduki dasar klasemen, dibawah Pusamania Borneo FC, Martapura FC dan PSCS Cilacap. Sialnya lagi, pada laga pamungkas lawan Borneo FC, Agung Prasetyo dan kawan-kawan dilibas enam gol tanpa balas.

Catatan itu menjadi noda yang wajib diingat. Namun tak perlu dijadikan beban. Justru kegagalan musim lalu harus dijadikan pelecut semangat untuk meraih hasil terbaik. Terutama bagi Agung Prasetyo, Akbar Riansyah, Bayu Nugroho, Bayu Andra serta Dedi Cahyono yang kala itu merasakan pengalaman pahit tersebut.

Persis Solo tergabung di grup X bersama PSMS Medan, Kalteng Putra dan Martapura FC. Tiga tim ini tentu tak kalah berkualitas dibanding lawan saat kompetisi Divisi Utama 2014 lalu. Khususnya Martapura FC yang dulu hampir saja lolos ke Liga 1, namun kemudian disingkirkan Persiwa Wamena.

Dari ketiga tim itu, Martapura FC tetap wajib diwaspadai. Tim besutan Frans Sinatra Huwae memperagakan permainan menyerang. Bahkan pada fase grup lalu, Martapura FC menjadi tim paling produktif dengan gelontoran 35 gol. Lalu pada babak 16 besar, Martapura FC kembali menjadi pencetak gol terbanyak. Tercatat ada 14 gol yang diciptakan.

Qischil Gandrum Mini menjadi sosok penyerang yang wajib diwaspadai. Sebelas gol sudah diciptakan pemain yang pernah memperkuat Persik Kediri dan Arema FC ini. Selain itu, ada pula Ady Setiawan yang kerap mengejutkan bek lawan.

Hanya saja, superioritas Martapura FC tak boleh menciutkan nyali penggawa Persis Solo. Selain jadi pencetak gol terbanyak, Martapura FC juga menjadi tim yang kemasukan terbanyak diantara klub-klub peserta babak 16 besar. Mereka kemasukan 22 gol pada fase grup dan tujuh gol di babak 16 besar.

Selain Martapura FC, Kalteng Putra tak bisa diremehkan. Lagi-lagi ada sosok pembeda di klub tersebut. Rivaldo Bawuo menjadi penyerang paling produktif Kalteng Putra. Pemain asal Gorontalo itu sudah mengemas 17 gol, sekaligus jadi topskorer sementara Liga 2 2017.

Tak boleh dilupakan adalah sosok Kas Hartadi. Pelatih asal Kwarasan ini kerap menyaksikan Persis Solo bermain di Stadion Manahan Solo. Tentu bapak dari Erick Cantona, Luis Figo dan Franz Beckenbauer tersebut sudah paham dengan kekuatan maupun kelemahan Laskar Sambernyawa.

Satu lagi adalah PSMS Medan. Mereka punya deretan mantan penggawa PS TNI. Mulai Legimin Raharjo, Dimas Drajad, M Alwi Slamat, Wanda Syahputra dan Fredyan Wahyu “Ucil”. Nama terakhir cukup familiar mengingat pemuda 19 tahun itu merupakan jebolan Persis Junior.

Tak boleh dilupa, ada nama Elthon Maran dan I Made Adi Wirahadi. Elthon pernah menjebol gawang Persis Solo lewat sepakan bebas pada fase grup lalu, bersama Sragen United. Sementara Made Wirahadi menjadi kunci lolosnya PSMS ke babak 8 besar. Dua golnya ke gawang Persibat Batang membuat PSMS bisa mengejar defisit poin, kemudian melesat ke posisi dua grup B.

Persis Solo dengan catatan selama fase grup dan babak 16 besar juga klub yang diperhitungkan. Namun ada satu permasalahan yang kerap terlihat dari permainan Laskar Sambernyawa. Barisan penyerangan kerap individualis dalam menyelesaikan peluang. Hal ini tentu tak boleh terulang lagi pada babak 8 besar. Dengan kualitas tim yang jauh lebih bagus ketimbang lawan-lawan sebelumnya, Tri Handoko dkk harus lebih cerdik dalam mengambil keputusan.

Selain itu, jangan mudah “kecewa” dengan wasit. Dalam tayangan televisi, kerap kali penggawa Persis Solo melakukan protes keras terhadap keputusan wasit. Namun dalam tayangan ulang, justru keputusan wasit terlihat sudah tepat. Kalaupun ada kesalahan, coba diingat berapa banyak pemain yang melakukan kesalahan umpan, berapa banyak yang buang peluang dan berapa banyak pemain yang gagal menyelesaikan penalti.

Wasit juga manusia yang bisa membuat kesalahan, sama seperti pemain atau pelatih. So, jangan semua pemain buang-buang energi untuk mengerubungi wasit apalagi menepi ke pinggir lapangan untuk minta “time out”. Ini Sepak bola, bukan basket! Dijatuhkan kembali berdiri, gol dianulir ayo serang lagi! Jangan patah semangat, jangan ciut nyali, ayo dadi nomor siji!

Tak lupa adalah kewajiban moril kepada para suporter. Pada babak 8 besar nanti, hampir pasti Pasoepati menjadi suporter terbanyak yang akan hadir. Selain faktor militansi yang lebih tinggi, jarak tempuh juga lebih dekat dan transportasi lebih murah ketimbang tiga rival lain. Satu lagi yang tak boleh dilupa, suporter PSMS Medan dalam status terhukum Komdis PSSI. Otomatis mereka tak boleh hadir di stadion, kecuali tanpa atribut.

Ayo Sambernyawa, Tuntaskan Sekarang!!!

Comment List

  • Irawan 06 / 11 / 2017 Reply

    Ayo majulah Persis Soloku!!!

  • Setiaw4n 06 / 11 / 2017 Reply

    Bermainlah dengan rasa bangga, demi lambang Persis di dada! *nyambung

  • Agung 07 / 11 / 2017 Reply

    Jos Gandos, semoga pemain dan manajemen baca tulisan ini!

Leave a Reply