SOLO,sambernyawa.com – Bukan persoalan mudah bagi pemain muda mendapat tempat di tim utama. Kerap kali tim pelatih pilih memberi kepercayaan kepada pemain yang lebih punya pengalaman, ketimbang memberi jam terbang kepada pemain muda.

Problem itu secara merata terjadi di Indonesia. Bahkan pada masa persipan menghadapi Sea Games 2017 lalu, PSSI mewajibkan klub Liga 1 memainkan para pemain dibawah usia 23 tahun. Pun juga Liga 2 yang hanya memperbolehkan lima pemain senior berada di lapangan.

Di Persis Solo, hal sama terjadi. “Untungnya” pada kompetisi 2011/2012 dan 2012/2013, ada dualisme di kota Solo. Persis LI yang kala itu diarsiteki Agung Setyabudi bisa mengorbitkan Dedi Cahyono, Akbar Riansyah serta Bayu Nugroho. Ketiga pemain junior angkatan 1993 itu menjadi pilihan utama tim Persis Solo dalam tiga musim terakhir.

Selain mereka, ada banyak jebolan tim junior yang kini berkarir di kompetisi profesional. Chandra Waskito yang sempat terbuang pada 2015 lalu akhirnya bisa sukses di Madiun Putra dan kini jadi idola pendukung PSS Sleman. Ada pula Roni Sugeng Aryanto yang menjadi bagian penting sektor tengah PS TNI.

Tak lupa Arga Permana yang sudah mengemas dua gol bersama Persegres Gresik. Mereka bisa membangun karir profesional meski kesulitan menembus skuad utama di klub asal. Pada babak 8 besar nanti, ada jebolan junior yang akan bersua seniornya.

Fredyan Wahyu Sugiantoro, pemuda asal Boyolali yang jadi kapten tim junior saat menduduki runner up Piala Soeratin U-17 2014. Dia akan menghadapi Persis Solo dengan jersey PSMS Medan.

Setelah lepas dari tim junior, pria yang akrab disapa Ucil itu kesulitan menembus skuad utama. Dia hanya mendapat kesempatan tampil saat Persis Solo mengikuti Plumbon Cup 2015.

Kala itu dia dipanggil Agung Setyabudi bersama Riki Junian Adiputra. Kini anggota aktif Batalyon Infanteri (Yonif) 413/Bremoro Kostrad ini bisa membuktikan bahwa dirinya tak bisa “dilupakan” begitu saja.

“Senang banget bisa bertemu Persis Solo (di babak 8 besar). Kan masih dalam satu karesidenan. Jadi lebih semangat,” terang Ucil.

Meski baru berusia 19 tahun, Ucil sudah punya peran penting di PSMS Medan. Dua gol diciptakannya untuk Ayam Kinantan pada musim ini. Kini, tugasnya tak lagi sebagai playmaker. Namun menjadi kekuatan di sektor belakang.

“Dari awal musim jadi playmaker. Tapi kemudian PSMS kekurangan pemain di pos belakang. Akhirnya sama coach Djanur (Djajang Nurjaman) ditempatkan jadi bek kanan sampai sekarang. Sebagai pemain saya selalu siap dengan tugas dari pelatih,” tuturnya.

Menilik pertarungam grup X, Ucil menyebut Persis Solo sebagai tim kuat. Apalagi ada banyak pemain yang secara kualitas maupun jam terbang lebih unggul dari PSMS. “Kelas-kelas pemainnya. Persis lolos sebagai peringkat satu, PSMS kan cuma runner up,” kelakar Ucil.

Sementara itu, Pelatih Persis Solo Freddy Muli menyebut PSMS menjadi pembeda pada babak 8 besar nanti. Dibanding Kalteng Putra dan Martapura FC, PSMS punya ciri khas permainan yang khas.

“Kalteng dan Martapura kebanyakan pemainnya dari Jawa. Jadi mainnya tidak jauh beda. Kalau PSMS ini sudah pakemnya rap-rap,” tukas Freddy.

Hingga kini belum diketahui kapan babak 8 besar akan dimulai. Manager meeting baru akan digelar pada akhir bulan ini. Biasanya, pertandingan dihelat tujuh hari setelah manager meeting.

(Foto : psmsid)

Leave a Reply