SOLO,sambernyawa.com – Ramai pembahasan soal isu dualisme di media sosial mendapat tanggapan Wakil Presiden (Wapres) Pasoepati, Ginda Ferachtriawan. Menurutnya, kata “dualisme” tidak tepat untuk menggambarkan keberadaan Persis Solo dan Persis Muda Gotong Royong Solo.

“Ada salah pemahaman yang diterima teman-teman suporter. Menurut saya ini bukan dualisme. Apalagi Persis Muda sudah ada di Linus (musim ini Liga 3) sejak musim lalu,” terang Ginda, Rabu (22/3).

Ginda menyebut, tidak ada yang salah jika Pasoepati turut mendukung Persis Muda. Apalagi, baik Persis Solo maupun Persis Muda sama-sama membawa harum nama kota Solo. Namun begitu, perlu adanya pertemuan antara Askot PSSI Solo, PT Persis Solo Saestu dan manajemen Persis Muda untuk menjelaskan posisi kedua klub tersebut.

“Perlu ada penjelasan agar suporter bisa lebih paham. Kalau musim depan semua berprestasi, kan sama-sama membanggakan kota Solo,” jelasnya.

Apa yang diungkapkan Ginda pun sejalan dengan jalur keanggotaan Persis Solo dan Persis Muda. Meski ada benang merah terkait dua klub tersebut, namun dalam keanggotaan PSSI, Persis Solo dan Persis Muda merupakan dua klub berbeda.

Persis Solo sudah menjadi anggota sejak PSSI berdiri pada 19 April 1930. Itu juga karena Laskar Sambernyawa merupakan salah satu pendiri organisasi sepak bola di Indonesia tersebut.

Sementara Pusat Latihan (Puslat) Persis Muda Gotong Royong Solo baru diresmikan pada 1 September 2015. Tim tersebut merupakan pusat latihan para pesepakbola dengan usia diatas 17 tahun atau setelah lulus dari Persis Junior. Selain di Solo, ada pula di Jakarta dengan nama Persija Jakarta dan Persija Muda. Serta di Semarang ada PSIS Semarang dan Berlian Rajawali-Putra PSIS Semarang.

Untuk menambah jam terbang para pemain, diputuskan bahwa Persis Muda turut mengikuti Liga Nusantara 2016 atau musim ini bernama Liga 3. Pada musim perdananya, Persis Muda langsung tersingkir karena menduduki dasar klasemen fase grup. Setelah penampilan perdana, akhirnya pada Kongres tahunan Asprov PSSI Jawa Tengah di Semarang, Januari 2017 lalu, Persis Muda resmi jadi anggota Asprov PSSI Jateng.

Tahun ini, Persis Muda memutuskan untuk memasang target tinggi. Mendapat sokongan dana Rp 5-7 miliar dari pengusaha lokal bernama Setyo, Persis Muda memasang target promosi Liga 2 2018. Tim pelatih diduduki mantan pelatih Timnas U-19 Eduard Tjong, dibantu dua asisten asal Medan, Slamet Riyadi dan Muchtar Hasibuan.

Bila tak ada perubahan, Persis Muda akan mengenalkan investor, manajemen, pemain dan pelatih pada Sabtu (25/3) mendatang di The Sunan Hotel Solo. Persis Muda pun kabarnya sudah membeli bus senilai Rp 1,2 miliar, elf dan mobil untuk operasional. Mes akan pindah dari Balai Persis lantaran dinilai pihak investor tak layak.

Dari penuturan Ketua Askot PSSI Solo, Paulus Haryoto, Rabu (22/3) malam, Persis Muda akan mengenakan logo yang berbeda dari tim Persis Solo yang dinaungi PT Persis Solo Saestu.

“Tidak (dua tim dengan logo yang sama). Logonya ada pembeda. Namanya kan juga beda,” ucap Paulus.

Paulus pun turut mengklarifikasi masalah logo yang sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada 17 Februari 2017, dan diumumkan secara publik pada 13 Maret 2017 dengan nomor pengumuman BRM1714A.

“Jadi saya luruskan. Hak paten itu yang mengajukan klub Persis Solo. Karena ketuanya saya, akhirnya yang tertera di website Kemenkumham disebut Paulus,” jelasnya.

Leave a Reply