Persis Solo merupakan klub yang sarat sejarah. Sejak tahun 1923, bond kebanggaan wong Solo ini sudah melanglang dalam persepakbolaan nasional. Persis lahir sejak zaman kolonialisme Belanda sebagai mode perjuangan pribumi melawan hegemoni penjajah. Di era perserikatan, Persis menjadi tim yang cukup disegani dengan koleksi tujuh gelar jawara.

Persis laksana museum hidup yang menjadi saksi perjuagan babat alas persepakbolaan nasional. Oleh karena itu, meski kini hanya berkubang di kasta kedua liga, Persis dituntut untuk tetap dapat mempertahankan eksistensinya sebagai wahana pembibitan dan pengembangan sepak bola di Surakarta.

Namun, di era modernitas sepak bola, Persis seperti tidak mampu beradaptasi menghadapi perubahan regulasi. Berpangkal dari Permendagri Nomor 22 Tahun 2011 yang melarang pemerintah daerah mengalokasikan dana  APBD untuk mengongkosi klub sepak bola profesional, kini wajah sepak bola Indonesia pun bersolek laiknya industri, sementara klub menjelma jadi komoditi

Kebijakan progresif ini juga mewajibkan seluruh klub sepak bola memiliki badan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas, Yayasan, maupun Koperasi. Persyaratan fundamental yang harus dipenuhi supaya aspek finansial bisa dipertanggungjawabkan secara hukum sehingga dapat menarik minat pemilik modal untuk berinvestasi.

Namun, lebih dari setengah dekade pasca-pemberlakuan Permendagri Nomor 22/2011, manajemen Persis masih kepayahan dalam mewujudkan tata kelola klub profesional. Masalah kekurangan anggaran, nihil sponsor, tunggakan gaji pemain, dan dualisme kepengurusan menjadi perkara lumrah yang silih berganti menerpa Persis. Sedangkan di awal musim ini, yang menjadi biang masalah adalah perkara kepemilikan saham PT. Persis Solo Saestu (PT. PSS).

‘Manajemen lama’ menuding pihak PT. Syahdana Properti Nusantara (PT. SPN) hendak mengakuisisi 90% saham Persis. Dengan kepemilikian saham mayoritas itu, ‘manajemen lama’ khawatir jika kemudi Persis akan dikendalikan penuh oleh PT. SPN. Sementara pihak PT. SPN melalui Dedi M. Lawe, yang ditemui secara terpisah menyatakan bahwa 90% saham PT. PSS sudah resmi diakuisisi PT. SPN. Akuisisi ini ditandatangani dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) luar biasa kedua pada bulan Oktober 2016.

Kesimpangsiuran dan kontradiksi pernyataan antara kedua belah pihak kian mempertajam aroma friksi dalam struktur manajerial Persis. Apalagi dengan munculnya istilah-istilah: ‘manajemen lama’, ’muka lama’, ‘orang-orang Solo’ pada satu kubu. Dan ‘manajemen baru, ’muka baru, ‘orang-orang Jakarta’ pada kubu yang lain. Hal ini semakin memperjelas adanya benih dualisme dalam intern-manajemen Persis.

Mencontoh Persib Bandung

Agar permasalahan tidak merunyam, ego masing-masing pihak harus disingkirkan. Jajaran direksi harus mulai menyadari bahwa sepak bola sebagai industri harus digelorakan tanpa menihilkan nurani. Dalam iklim persepakbolaan modern, Persis dituntut mampu memposisikan diri sebagai komoditi penarik laba, tanpa mengalpakan perannya sebagai wahana pengembangan sepak bola masyarakat Surakarta. Untuk mewujudkan sinergitas antara sepak bola hakiki dan sepak bola industri, Persis dapat mencontoh langkah yang pernah ditempuh oleh Persib Bandung empat tahun silam.

Pada bulan Agustus 2012 lalu, Persib pernah melewati episode pelik sebagaimana yang tengah dihadapi Persis sekarang. Pemegang saham mayoritas PT. Persib Bandung Bermartabat (PT. PBB) –selaku pengelola Persib—dimiliki oleh PT. Suria Eka Persada (sebesar 70%). Sementara 30% sisanya dipegang oleh lima orang komisaris PT. PBB.

Alhasil, 36 klub internal Persib –yang tidak dilibatkan dalam kepemilikan saham—mendeklarasikan pendirian PT. Persib 1933 untuk mengakuisisi 30% saham PT. PBB. Langkah ini dilakukan karena menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, yang boleh menjadi pemegang saham sebuah PT adalah perseorangan atau badan hukum (yayasan, koperasi, atau PT). Oleh karena itu, 36 klub internal Persib harus membentuk PT agar upaya mengakuisisi saham PT. PBB menjadi absah di mata hukum.

Beruntung, PT PBB menanggapi keinginan PT Persib 1933 secara terbuka. Keduanya segera duduk bersama membahas kepemilikan saham agar tidak memicu polemik yang berlarut-larut. Dengan sinergisme manajerial yang masif, akhirnya polemik kepemilikan saham Persib dapat diselesaikan. Persib pun kini mampu muncul sebagai klub yang berprestasi dan mandiri secara finansial.

PSS (selaku pengelola Persis) dan PT. SPN (selaku pemegang saham mayoritas PT. PSS) hendaknya dapat bercermin dari langkah Persib dalam mengurai permasalahan kepemilikan saham. Tentu akan sangat bijak jika jajaran direksi, askot PSSI Solo, dan 26 klub internal Persis mau melangkah bersama-seirama dalam memajukan sepak bola Surakarta.

Peran Sentral Manajemen

Manajemen seharusnya menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tata kelola klub agar dapat mencapai tujuan yang telah dicanangkan (baca: kemenangan dan kejayaan). Akan tetapi, kinerja manajemen Persis justru berbuah anomali. Alih-alih membawa sorak-sorai kemenangan dan kejayaan, manajemen Persis malah tiada jemu-jemunya  membawa ingar-bingar kegaduhan.

Dalam kultur sepak bola Indonesia, khususnya di Surakarta, masih memegang mindset  bahwa mantan pemain sepak bola merupakan sosok yang memiliki kapasitas mumpuni dalam manajerial klub. Tanpa bermaksud memandang rendah kemampuan manajerial mantan pesepak bola. Akan tetapi, jika kinerja mantan pesepak bola tersebut disokong dengan bantuan para profesional yang memiliki latar belakang manajemen olahraga, tentu lebih berpotensi meraih kesuksesan. Persis dapat menjalin kerja sama mutualisme dengan universitas-universitas di Surakarta untuk memenuhi kebutuhan terhadap sumber daya ini.

Sepak bola modern menuntut profesionalisme dan spesialisasi dalam tata kelola. Tidak cukup hanya sebelas pemain, kini sebuah klub juga dituntut melibatkan ahli marketing, ahli gizi, ahli riset/ilmuwan olah raga, fisioterapi, pencari bakat dan masih banyak komponen lain. Semua itu dapat terwujud jika sebuah klub memiliki manajer yang profesional dan benar-benar memiliki kompetensi ihwal manajerial klub sepak bola.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski, dalam Soccernomics (2010), secara sarkastis mengutarakan bahwa sepak bola adalah bisnis yang ‘menyedihkan’.  Dikatakan menyedihkan karena banyak klub sepak bola yang merekrut karyawan terpenting (baca:manajer tim) secara serampangan, tanpa menimbang kualifikasi profesional.

Ihwal kearifan dalam pemilihan manajer, cara Arsenal dan Manchester United (MU) sangatlah apik untuk dijadikan rujukan. Penunjukkan Arsene Wenger oleh Arsenal pada tahun 1996 harus melalui proses penimangan matang dari jajaran direksi The Gunners. Bahkan untuk mendapatkan jasa Wenger, Arsenal harus sabar menunggu masa kontrak kerja Wenger di Jepang habis. Adagium ‘proses tidak pernah mengkhianati hasil’ sangatlah pas untuk merepresentasikan penimangan panjang Arsenal untuk memilih Wenger. Kinerja the professor terbukti mampu mengangkat prestasi dan finansial Arsenal  dalam dua dasawarsa terakhir.

MU juga pernah mengalami gejolak manajerial di klubnya. Pada tahun 1990, para fans MU menghujat presiden klub, Martin Edwards, karena tidak mau mendepak Sir Alex Ferguson yang tidak mampu mempersembahkan satu gelar pun sejak ia berkiprah menjadi manajer MU (1986). Para fans MU saat itu menganggap Fergie –sapaan Sir Alex Ferguson—  tidak punya kapasitas untuk melakukan tata kelola ‘the red devils’. Sementara Martin Edwards yakin betul dengan kemampuan manajerial Fergie –karena proses penunjukkannya juga tidak dilakukan dengan serta-merta—, sehingga tekanan suporter untuk mendepak Fergie dengan tegas ia tolak. Sang presiden yakin bahwa Fergie hanya butuh waktu untuk melabuhkan MU pada dermaga kejayaan. Dan benar saja, dalam kiprahnya menukangi MU selama 27 tahun, Fergie berhasil menyulap MU menjadi klub tersukses di Britania Raya.

Persis Solo dapat meneladani Arsenal’s way dan United’s way dalam proses mereformasi manajerial tim. Sudah saatnya Persis memiliki manajer yang memiliki kualifikasi profesional. Manajer, dalam klub sepak bola, ibarat nakhoda. Di bawah kemudinya, sebuah bahtera tim dapat dibawa berlabuh di dermaga atau malah tungkus-karam di dasar samudra. Di bawah kendalinya, sebuah kesebalasan dapat meraih ingar-bingar kejayaan atau sekadar kegaduhan picisan yang tak berkesudahan.

 

Ardian Nur Rizki

Loyalis Persis Surakarta

Pencinta Sepak Bola Indonesia

Penulis dapat dihubungi melalui surel ardian1923@yahoo.co.id

atau akun facebook.com/anr1923

Leave a Reply