SOLO,sambernyawa.com – Pencinta sepak bola di Surakarta akan mendapat suguhan menarik tengah pekan ini. Pada hari Kamis (26/1) akan digelar laga ekshibisi bertajuk “Perang Bintang Persis All Star vs Persis Legend”. Pertandingan ini dihelat untuk mengawali perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-17 Pasoepati yang jatuh pada tanggal 9 Februari mendatang. Laga Perang Bintang ini rencananya akan diramaikan oleh pemain yang pernah membela Laskar Sambernyawa dan yang telah melegenda di hati Pasoepati tentunya.

Nama-nama familier yang sudah tidak asing bagi Pasoepati, seperti: I Komang Putra, Wahyu Tanto, Bayu Andra, Ferryanto, hingga Rudy Widodo, serta nama-nama besar lainnya akan tergabung dalam Tim Persis Legend. Sementara Tim Persis All Star diproyeksikan akan diperkuat pemain-pemain bintang, seperti: Wahyu Tri Nugroho, Bayu Nugroho, Dedi Cahyono, Andrid Wibawa, Ainudin Devira, Yanuar Ruspuspito, dan beberapa pemain muda berbakat lainnya. Sebagai juru taktiknya, tim Persis Legend akan ditangani oleh Agung Setyabudi, sedangkan tim Persis All Star akan dinakhodai Haryanto Prasetyo.

Laga Perang Bintang ini laksana ‘oase penghibur’ di tengah kegersangan prestasi Persis yang belakangan lebih dekat dengan tahbis kemunduran. Dari tahun ke tahun, persiapan pembentukan tim selalu dijalankan dengan prematur. Sebagai contoh, kegagalan Persis lolos ke babak 16 besar ISC B tahun lalu seharusnya segera direspons dengan pembentukan kerangka tim untuk menyongsong musim baru. Dengan begitu, Persis dapat mencuri start untuk berlari lebih dulu meninggalkan kompetitornya yang masih harus bertungkus-lumus merampungkan kompetisi ISC B. Namun, alih-alih bersiap-siap, Persis justru tertidur. Kini, ketika kompetitor lain sudah siap menyergap, Persis masih mendengkur.

Sudah jadi rahasia umum bahwa konflik manajerial dan kisruh kepemilikan saham Persis yang kian berlarut-larut telah mengembuskan angin pesimisme di kalangan suporter. Beruntung, di tapak usianya yang akan menginjak 17 tahun –usia yang kerap dianggap sebagai representasi kedewasaaan—, Pasoepati tetap setia dengan mentalita yang lebih dewasa.

Di masa awal eksistensinya, Pasoepati merupakan suporter yang identik dengan ‘perselingkuhan’. Bagaimana tidak? Persis sebagai bond asli Solo yang telah melanglang sejak era kolonialisme Belanda justru dipandang sebelah mata oleh Pasoepati. Sementara Pelita yang notabene hanya klub musafir justru digandrungi sepenuh hati. Kepergian Pelita pada tahun 2002 tidak lekas membuat Pasoepati mawas, kehadiran Persijatim beberapa waktu berselang dapat segera menambal hati yang sempat berlubang. Sampai akhirnya, kepergian Persijatim ke Palembang –berubah menjadi Sriwijaya FC (tahun 2005) – dapat menyadarkan Pasoepati untuk mengerahkan dukungan total kepada Persis Solo, selaku bond otentik daerah. Pada tahun 2010, sebagian Pasoepati sempat hendak ‘berselingkuh’ lagi dengan mendukung Ksatria XI Solo FC. Namun, ‘pengkhianatan’ itu tidak berlangsung lama karena eksistensi Liga Primer Indonesia –kompetisi yang diikuti Ksatria XI Solo FC—hanya berlangsung separuh musim.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski, dalam bukunya Soccernomics (2009), menyatakan bahwa terdapat dikotomi dalam kultur tribune dan fandom (dunia kepenggemaran). Corak yang pertama adalah type Hornby, dengan ciri khas kesetiaan dan keterikatan pada satu klub. Tipe ini memegang erat adagium, “Anda boleh berganti istri atau mengubah jenis kelamin, tetapi tidak bisa berganti klub sepak bola!”. Sementara corak yang kedua adalah type Gideon Rachman yang dipredikatkan untuk pendukung musiman (fair-weather fans), senang memberi dukungan pada tim yang sedang berjaya (glory hunter), dan tidak ingin terikat pada kesetiaan.

Pasoepati adalah anomali, karena bukan merupakan type Gideon Rachman, dan untuk disebut sebagai type Hornby juga harus banyak melewati fase uji. Awalnya, dukungan Pasoepati terhadap klub pujaannya ibarat pendulum yang selalu bergerak dinamis, sampai akhirnya tergeming dan berani mengikrarkan cinta terakhirnya untuk Persis. Bertambahnya usia berpelurus dengan semakin matangnya komitmen Pasoepati untuk mendukung Persis.

Buktinya, Pasoepati tetap setia menjadi martir, meski Persis nihil prestasi dalam satu dasawarsa terakhir. Pasoepati seperti hendak menebus dosa-dosa kepecundangan masa silam dengan mencurahkan dukungan moral-material yang sarat totalitas. Laga ekshebisi bertajuk Perang Bintang ini adalah salah satu ikhtiar Pasoepati untuk membangun lagi memori kolektif pencinta sepak bola Surakarta terhadap hegemoni Laskar Sambernyawa.

Wakil Presiden Pasoepati Ginda Ferachtriawan menyatakan bahwa laga Perang Bintang ini juga bisa dijadikan mode satire untuk menampar gerak lambat manajemen. Pasoepati dapat ‘mengumpulkan’ dua tim dalam sekejap, sementara manajemen masih sibuk bergumul dengan ego dan kepentingannya masing-masing. Padahal, jika manajemen mampu bergerak lebih cepat –minimal sudah menunjuk pelatih untuk musim depan – laga Perang Bintang ini juga dapat merangkap fungsi sebagai penyaring bakat-bakat dari penggawa yang berlaga.

Sementara bagi Maryadi ‘Gondrong’ Suryadharma, selaku Ketua Panitia Pertandingan, Laga Perang Bintang ini tak ubahnya bermakna sebagai pengumpul balung pisah. Para pemain yang telah pensiun atau sedang meniti karier di pelbagai penjuru nusantara akan berhimpun lagi untuk memeriahkan ulang tahun Pasoepati. Sementara suku-suku Pasoepati yang sempat mati suri dan terlibat friksi hendak dikumpulkan agar kembali tercipta konsolidasi.

Pasoepati juga berencana menjadikan laga ini sebagai media untuk melakukan pressure terhadap manajemen. Bentuk pressure hendak dilakukan dengan cara beragam, baik melalui spanduk, yel-yel, hingga unjuk rasa pra dan pasca-pertandingan. Harapannya, manajemen lekas mawas dan bersedia menyingkirkan egonya masing-masing.

Laga Perang Bintang seyogianya dapat dijadikan tonggak untuk membuncahkan optimisme Pasoepati yang sempat tergegap-gegap. Seluruh suporter dan stakeholder baku dekap, segendang-sepenarian dalam sikap, dan bersama-sama memungkasi episode gelap. Semoga dengan membuncahkan ingatan kolektif ihwal kejayaan, Pasoepati kembali menyemat asa ihwal kobar-gahar perjuangan.

Dirgahayu Pasoepati!

Ardian Nur Rizki

Pencinta Sepak Bola Indonesia

Dapat dihubungi via surel ardian1923@yahoo.co.id

Leave a Reply